Review Shell Helix HX7: Biasa tapi khasiatnya bertumbuh

DSC_1369

Halo rek, terakhir kali Raya mereview oli premium dari pabrikan garputala yang seharga 70rb dan impresinya bagus. Kini giliran mencoba oli merk lain dengan harga yang selisih tipis, yakni 68rb alias selisih 2rb saja. Apakah impresinya juga bagus ? bagaimana dengan performa dan kondisi mesin selama penggunaan oli tersebut ? Monggo dibaca sampai kebawah ! siapkan camilan agar nggak ngantuk karena review ini Raya bumbui dengan cerita, jadi bakal lumayan panjang:-D :mrgreen:

Setelah pakai oli premium dari pabrikan, Raya sempat switch ke oli pabrikan yang biasa, yang semi synthetic itu lho. Sewaktu sudah jalan sekitar 1500 km-an, Raya memutuskan untuk mengganti oli tersebut karena sudah terasa tidak enak. Hal ini disebabkan karena beratnya kinerja oli akibat keseharian saya yang selalu diterpa kemacetan. Sudah pasti mesin bakal puanasssss kalau kondisi seperti ini dan oli dituntut untuk kerja keras supaya tetap melumasi komponen secara maksimal.

DSC_1370

DSC_1371

 

 

 

 

 

 

 

 

Raya mampir ke suatu bengkel untuk membeli oli baru. Raya beli Shell Helix HX7 10W-40 seharga 68rb. Botolnya mirip Shell Advance AX7 hanya beda gambar pada kemasan dan spesifikasi olinya juga takaran olinya (Shell AX7 ada yang 800 ml ada yang 1 liter, Shell Helix HX7 Cuma tersedia 1 liter). Pada botol kemasan Shell Helix HX7 memiliki spek mutakhir yakni API SN/CF, ACEA A3/B4, tergolong oli sintetis (entah semi atau full), 10W-40, 1 liter dan diklaim mampu membersihkan mesin berkat Active Cleansing Technology. Oh ya, btw spek tersebut agak asing bagi Raya. Pada API SN/CF, CF itu apa ya ? kemudian ACEA A3/B4 itu apa ? apakah itu jenis lain dari standarisasi oli ? kok nggak ada JASO-nya ya ? Barangkali sobat yang lebih tahu bisa menjelaskan.

DSC_1373
start penggantian oli

Keesokan harinya Raya nyervis si kebo ke beres dan mengganti olinya dengan yang sudah terbeli kemarin. Servis dan ganti oli dimulai pada 42039km. Ketika servis perlakuan si mekanik terhadap sikebo sama saja seperti servis sedia kala. Meliputi pembersihan filter udara dan busi, ganti oli hingga cek kelistrikan macam lampu, sein, speedometer,dsb.

Seusai servis dan sikebo sudah dicekoki Shell Helix HX7, Raya nyoba keliling perumahan sambil ngetes kinerja oli. Ketika baru diganti olinya kok tidak begitu wow rasanya, malah biasa saja. Tarikan nggak ringan-ringan amat tapi mesin dari dulu tetep halus ketika digeber. Raya maklumi saja mungkin kinerja oli masih belum mencapai performa terbaiknya. Raya sempat berpikiran percuma mengganti oli dengan harga yang cukup mahal bagi kantong mahadewa mahasiswa tapi hasilnya biasa-biasa saja. Tapi saya juga terlalu dini jika menilai demikian, lha wong oli masih baru siapa tahu ketika udah menempuh jarak agak jauh baru terasa kualitasnya.

Yang benar saja, ketika sudah menempuh jarak 200-an km oli mulai terasa enak. Terutama ketika digeber pagi atau malam hari yang notabene nggak begitu macet dan bisa ngacir dikit lah, tarikan terasa enteng dan mesin nggak terlalu panas hawanya sampai ke kaki. Sudah cukup puas ? belum. Raya masih penasaran dengan kinerja oli ketika menghadapi kemacetan lalu lintas dan dibawah naungan panasnya siang 😎

Suatu hari ketika pulang kuliah siang, kebetulan hari itu terik dan jalanan sangat macet setiap menjelang traffic light. Kesempatan ngetes performa oli nih. Yang Raya rasakan ketika itu, panas mesin tetap normal dan performa mesin tidak begitu drop meskipun keadaan saat itu menuntut kinerja oli yang berat. Berarti oli ini bagus meredam panas mesin dan menjaga performa mesin. Tapi bagi oli yang baru ganti, itu mah “biasa”. Lantas sampai berapa lama kinerja oli ini tetap terjaga ?

Pada kesempatan lain, Raya pernah nyoba ngebut di jalanan sepi tapi pada gear 5 nggak sampai mentok. Impresi saya, putaran atas sedikit lebih mantap ditandai dengan kenaikan speed yang relatif lebih cepat tapi ketika  100 km/h keatas malah biasa alias flat saja. Jangan ditiru yah 😀 Hingga diatas 1700-an km, saya merasa kinerja oli ini masih bagus performanya.  Di siang hari kesan “biasa”nya masih terasa alias belum turun secara signifikan dan ketika digeber di pagi atau malam hari juga masih enak, nggak kasar, hanya saja mulai terasa hawa panas mesin ke kaki. IMHO.

DSC_1621
waktunya oli diganti

Hingga pada hari ini, tepatnya pada 44040 km waktunya ganti oli dan servis. Tak terasa sudah menempuh 2001 km dan belum terasa performanya turun, tapi alangkah baiknya diganti saja karena alasan waktu, kesempatan dan jarak yang harus ditempuh.

Kesimpulannya, Shell Helix HX7 menawarkan spek yang lumayan advance dengan harga sedikit mahal bagi saya 😀 Menurut pengalaman pribadi, kinerja oli ini agak nggak mainstream 😀 Pada permulaan ganti oli memang biasa saja impresinya namun lambat laun performa mulai bertumbuh sejak menempuh jarak 200-an km dan mampu bertahan hingga diatas 1700-an km walaupun setelah itu mengalami peningkatan panas. Ketika motor digeber di pagi atau malam hari yang nggak begitu macet dan panas, performa mesin lebih bagus dibanding ketika siang hari. Akhirnya pada km 44040 Raya memutuskan untuk mengganti oli dan membawa tunggangan ke dokter (bengkel) biar tetep awet dan sehat wal afiat 😀

Well, begitulah sekelumit cerita sekaligus review dari Raya tentang Shell Helix HX7 yang Raya rekomendasikan buat sobat yang selalu menempuh jarak jauh setiap harinya. Namun, perlu diingat juga impresi ini bisa berbeda-beda tergantung riding style, geografis maupun intensitas menghadapi kemacetan lalu lintas atau apalah tambahi sendiri 😀 (irzaraya)

Iklan

Penulis: keboplastik

Meski bukan ahli di bidang otomotif but automotive is my passion and hobby

9 tanggapan untuk “Review Shell Helix HX7: Biasa tapi khasiatnya bertumbuh”

  1. HX7 itu pelumas untuk mobil bro…
    Pelumas mobil memang selalu menggunakan dua standard API service, contoh API service SN/CF
    Huruf S = Spark (mesin bensin)
    Huruf C = Compressed (mesin diesel)
    artinya bila digunakan untuk mobil bensin kualitas setara API SN dan bila digunakan untuk mobil diesel kualitas setara API CF
    Tidak ada standar JASO? Karena memang tdk untuk digunakan pada motor
    ACEA standard: setau saya ini standard dari eropa, kalo gak salah singakatan dari “Association des Constructure European Automobile”….. (cmiiw)
    Merupakan standarisasi yg dibuat oleh pabrikan mobil eropa (jerman) seperti Mercedes, Audi, BMW

    Suka

  2. Salam Bro, menurut bbrp artikel yg pernah sy baca sepertinya pemakaian oli shell helix utk motor sistem kopling basah sangat keliru. Krn shell helix diperuntukkan mesin sistem dry coupling seperti mobil dan bolehlah buat motor matik, klo utk motor dry coupling yg disarankan pakai yg ada JASO MA.

    Suka

Mari berdiskusi yang enak!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s